Entri yang Diunggulkan

19 Maret 2017

Matematika dan Ilmu Budaya Dasar



Nama : Tami Apriliani
Kelas : 1PA04
NPM : 1A514652

Hubungan Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar dengan Psikologi
  1. Matematika
Secara etimologi, pengertian matematika berasal dari bahasa latin manthanein

atau mathemata yang berarti “belajar atau hal yang dipelajari” (things that are learned).
Matematika adalah ilmu yang tidak jauh dari kehidupan manusia. Sejarah matematika sangat panjang, segala perkembangan dan pengalaman yang berinteraksi langsung dengannya membuat pengertian matematika terus berkembang.
            Berikut ini merupakan beberapa pengertian matematika menurut para ahli:
·         Menurut Riedesel matematika adalah kumpulan kebenaran dan aturan, matematika bukanlah sekedar berhitung. Matematika merupakan sebuah bahasa, kegiatan pembangkitan masalah dan pemecahan masalah, kegiatan menemukan dan mempelajari pola serta hubungan.
·         Menurut Elea Tinggih (Erman Suherman, 2001), matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Maksudnya adalah bahwa matematika lebih menekankan aktivitas penalaran, sementara pada pelajaran lain lebih ditekankan pada observasi dan eksperimen.
·         Menurut Johnson dan Rising (1972), matematika adalah pola fikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis. Matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.

  1. Ilmu Alamiah Dasar
Ilmu alamiah dasar adalah disiplin ilmu yang biasanya dipelajari di tingkat perguruan tinggi. Pada dasarnya, ilmu alamiah dasar juga sudah dipelajari di tingkat SD, SMP, maupun SMA. Perbedaanya ialah ilmu alamiah dasar lebih banyak bicara tentang bagaimana metode-metode ilme kealaman dalam menjelaskan gejala-gejala alam secara lebih fisiologis. Ilmu alamiah dasar melibatkan studi tentang fenomena atau hukum-hukum dunia fisik.
Ilmu alamiah dasar atau biasa disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala alam, termasuk di muka bumi sehingga terbentuk prinsip dan konsep. Ilmu pengetahuan alam dapat didefinisikan sebagai pendekatan rasional unutk mempelajari alam semesta dan dunia fisik. Cabang utama ilmu pengetahuan alam antara lain adalah astronomi, biologi, kimia, ilmu bumi, dan fisika.
Ilmu alamsiah dasar merumuskan pemikiran yang selalu dilandasi realisme karena mempelajari tentang metode alamiah dan gejala alamiah. Oleh karena itu, ilmu alamiah dasar tidak bisa lepas dari objek yang berhubungan dengan panca indera.

  1. Psikologi
Terdapat beberapa definisi psikologi menurut para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:
·         Menurut Crow and Crow, psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia: hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya (Pschycology is the study of human behavior and human relationship).M
·         Menurut pandangan Sartain, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia. (Psychology is the scientific study of the behavior of living organism, with special attentiont given to human behavior).
·         Dalam ensiklopedia pendidikan, psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa.
·         Definisi umum psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia dan binatang, serta penerapannya pada permasalahan manusia (Morgan, 1987).

  1. Hubungan Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar dengan Psikologi
Matematika merupakan ilmu yang menggunakan nalar. Matematika mengajak seseorang untuk berpikir cermat dan melatih kita unutk meyelesaikan masalah. Matematika identik dengan angka dan masalah yang harus dipecahkan dengan menggunakan rasio. Sementara itu, ilmu alamiah dasar atau biasa disebut ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu yang mengkaji tentang gejala alam. Cabang dari ilmu pengetahuan antara lain adalah astronomi, kimia, biologi, ilmu bumi, dan fisika.
Matematika dan Ilmu Budaya Dasar memiliki hubungan dengan psikologi. Matematika merupakan ilmu yang berhubungan dengan nalar dan pemecahan masalah. Hal ini sangat membantu dalam ilmu pengetahuan karena ilmu pemngetahuan berdasarkan pada observasi dan eksperimen. Ilmu pengetahuan memerlukan matematika untuk membantunya menemukan jawaban dan menyusun teori. Sementara itu, psikologi memerlukan matematika dan ilmu alamiah dasar untuk menyusun teori dan melakukan perhitungan. Sementara itu salah satu cabang ilmu pengetahuan adalah biologi. Biologi amat penting bagi ilmu psikologi terutama untuk mempelajari berbagai macam mekanisme dalam tubuh manusia. Melalui berbagai penelitian, ilmu biologi dapat menjelaskan hal-hal seperti proses penginderaan pada manusia, alasan saat takut detak jantung menjadi lebih cepat dan sebagainya. Ini amat membantu perkembangan ilmu psikologi

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. ___. Memahami Pengertian Ilmu Alamiah Dasar [online]. http://www.anneahira.com/pengertian-ilmu-alamiah-dasar.htm.
Anonim. ____. Hakikat Matematika [pdf]. http://eprints.uny.ac.id/9151/3/bab%202%20-%2008301244043.pdf.
Anonim. ____. Pengertian Matematika Menurut Ahli [online]. http://www.pengertianahli.com/2013/10/pengertian-matematika-menurut-ahli.html.
dedi26. 2013. Apa itu Matematika?? Pengertian matematika menurut para ahli [online]. http://dedi26.blogspot.com/2013/02/apa-itu-matematika-pengertian.html.
Riyanti, B.P Dwi. 1996. Psikologi Umum I [pdf]. Jakarta: Gunadarma.
Zaoldyeck, Fakhree. ____. Pengertian Ilmu alamiah Dasar [online]. http://www.scribd.com/doc/88996435/Pengertian-Ilmu-Alamiah-Dasar.
 https://sekarayu18.wordpress.com/2014/04/16/116/

17 Maret 2017

Psikoterapi

PSIKOLOGI TERAPI


         Definisi Psikoterapi
            Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu. Ciri-ciri dari definisi mengenai psikoterapi ini akan dijelaskan dalam uraian yang berikut : 
1.      Interaksi sistematis. Psikoterapi adalah suatu proses yang menggunakan suatu interaksi antara pasien dan terapis. Kata sistematis di sini berarti terapis menyusun interaksi-interaksi dengan suatu rencana dan tujuan khusus yang menggambarkan segi pandangan teoretis terapis. 
2.      Prinsip-prinsip psikologis. Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi terapeutik. 
3.      Tingkah laku, pikiran, dan perasaan. Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif, dan emosional serta membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh dan memuaskan. Psikoterapi mungkin diarahkan pada salah satu semua cirri dari fungsi psikologis ini. 
4.      Tingkah laku abnormal, memecahkan masalah, dan pertumbuhan pribadi. Sekurang-kurangnya ada tiga kelompok pasien yang dibantu oleh psikoterapi.
Psikoterapi juga memiliki ciri-ciri yang lain. Psikoterapi membutuhkan interaksi-interaksi verbal. Bagimanapun juga, psikoterapi adalah “terapi-terapi berbicara” – bentuk-bentuk interaksi antara pasien yang melibatkan pembicaraan. Psikologi terapi adalah salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki seorang psikiater. Psikoterapi diawali dan dikembangkan oleh banyak nama besar dalam dunia psikiatri. Salah satunya adalah Sigmund Freud. Psikoterapi merupakan suatu bidang yang tidak disertai objektivitas keilmiahan yang tinggi. Meskipun demikian, jelas bahwa banyak pasien mendapatkan keuntungan dari perhatian dan bahwa inti dari perhatian tersebut adalah hubungan terapis-pasien yang baik, yang dibangun dari minat yang tulus dan saling percaya. Psikoterapi merupakan suatu seni, dan terapis yang baik dapat membuat perbedaan yang bermakna. Beberapa definisi psikoterapi adalah seperti yang dikemukakan Wolberg dan Frank (1967, dalam Phares 1992) yang menyatakan bahwa psikoterapi adalah suatu bentuk perlakuan (treatment) terhadap masalah yang sifatnya emosional, di mana seorang yang terlatih secara sengaja membina hubungan professional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah atau memperlambat simtom, untuk mengantarai pola perilaku terganggu, dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif. Definisi ini jelas mengandung banyak unsure medis. Definisi Frank tentang psikoterapi ialah sebagai interaksi terencana antara seorang yang terlatih, yang mempunyai kewenangan sosial untuk melakukan terapi, dengan seorang yang menderita, di mana dalam interaksi ini terapis berusaha untuk meringankan penderitaan penderita, melalui komunikasi simbolis, khususnya kata-kata maupun aktivitas fisik.

·         Pendekatan Psikoanalisis/Psikodinamik
Pendekatan psikoanalisis atau psikodinamik menganggap bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh faktor-faktor intrapsikis (konflik tak sadar, repsesi, mekanisme defensife), yang mengganggu penyesuaian diri. Menurut Freud, esensi pribadi seseorang bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Atas landasan teori tersebut, pendekatan ini mengutamakan penggalian isi ketidaksadaran seseorang. Aspek-aspek kepribadian yang menjadi perhatian adalah ego-id-superego (Freud), persona-ego-shadow-archetype (Jung), jenis orientasi moving toward-away-against (Horney), inferiority-compensation (Adler) dan sebagainya. Dalam melaksanakan interviu, pendekatan psikoanalisis bertujuan untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi/tak sadar, yaitu pengalaman-pengalaman apa yang pernah terjadi dan memungkinkan ia mengalami konflik tak sadar dan menyebabkan ia berperilaku demikian.
Menurut pendekatan psikoanalisis, suatu simtom adalah manifestasi dari suatu defense yang berkembang dalam individu yang bersangkutan. Pada kasus R yang acuh dan menyendiri, defense-nya adalah menghindar. Dengan latara belakang pemikiran psikodinamik, psikolog akan menggunakan tes proyeksi yang mengungkap konflik intrapsikis yang terjadi pada R dan hal-hal apa yang direpresi.  Mungkin bila R mengerjakan tes TAT, terungkap bahwa konflik yang direpresi adalah konflik antar saudara. Observasi dalam pendekatan psikoanalisis dapat diarahkan pada semua yang dimiliki subjek, misalnya hasil karyanya berupa puisi, lukisan dan sebagainya yang mungkin memproyeksikan dunia pribadi subjek yang tak terungkap dalam interaksi biasa. Meskipun Freud dan tokoh-tokoh psikoanalisis lain kebanyakan adalah dokter saraf atau psikiater, tokoh-tokoh ini tidak begitu menganggap penting label diagnostik. Teori-teori mereka lebih mengutamakan dinamika terjadinya gangguan.
Psikoterapi yang berorientasi psikoanalisis umumnya berlangsung lama karena berusaha merekonstruksi kepribadiaan seseorang setelah dibongkar isi ketidaksadarannya. Seseorang menjadi sakit atau terganggu bila terlalu banyak mengalami represi. Untuk menjadikannya seorang yang sehat, ia harus mengurangi represi, mengurangi isi ketidaksadaran yang mengganggu, dengan jalan lebih menyadari apa yang ada di dalam dirinya. Terapis yang melaksanakan psikoterapi berorientasi psikoanalisis biasanya harus pernah mengalami psikoanalisis bagi dirinya sendiri. Psikoanalisis ini dilakukan oleh psikoanalsis senior yang sekaligus menjadi gurunya. Ini dilakukan untuk mengembangkan keterampilan melaksanakan psikoanalisis. Sebagai contoh lain, dapat kita lihat kembali kasus M yang menunjukkan simtom perilaku gemetar. Psikoanalisis mendeskripsikan symptom ini sebagai kurangnya daya integrasi ego (Stren), atau sebagai defence terhadap perasaan cemas atau perasaan bermusuhan yang direpresi (Freud). Untuk pemahaman lebih lanjut atas kasus M melalui riwayat hidup, dapat diteliti ada tidaknya inferioritas (Adler), atau pola interaksi sosialnya (Horney), agar dapat dipahami dinamika terjadinya symptom sekaligus membahas struktur kepribadiannya. Saul (dalam Levy, 1963) membuat suatu daftar pertanyaan yang sebaiknya diajukan dalam pendekatan psikoanalisis. Bucklew (1960) telah membuat skema pemahaman suatu gangguan jiwa menurut pendekatan psikoanalisis yang digabung dengan pendekatan belajar. Ia menciptakan gambar-gambar yang dimaksudkan untuk menunjukkan represi, regresi, kompleks pengalaman masa dini yang menjadi titik regresi, konflik intrapsikis, dan sebagainya.
·         Pendekatan Humanistik
Salah satu tokoh pendekatan humanistik adalah Carl Rogers yang terkenal dengan metode terapi bernama client centered/person centered  psychotherapy. Teori Rogers dinamakan juga teori fenomenologis atau teori ‘self’. Pendekatan humanistik menentang teori psikoanalisis Freud karena dianggap terlalu merendahkan harkat manusia. Freud menganggap manusia sangat dikuasai oleh insting seks. Alasan lain adalah bahwa Freud menegakkan suatu teori atas dasar penelitian terhadap kasus abnormal. Pendekatan humanistik ini juga tidak setuju dengan pendekatan belajar, karena manusia di sini seolah-olah disamakan dengan hewan, tidak memiliki kebebasan, dan tidak mempunyai kehendak sendiri. Tokoh-tokoh humanistik beranggapan bahwa manusia adalah makhluk menentukan apa yang diinginkan, mempunyai bakat yang baik yang seringkali ditekan pemunculannya oleh lingkungan. Keyakinan-keyakinan tentang hakikat manusia tersebut merupakan hasil penelitian riwayat hidup orang-orang terkenal seperti Abraham Lincoln. Mereka menemukan bahwa orang-orang tersebut memiliki ciri-ciri: bebas, spontan, tidak mudah terbawa oleh lingkungan, mempunyai tujuan yang jelas, tidak tertanggu oleh konflik dan tekanan yang terus menerus, dapat menikmati hidup dapat menyenangkan orang lain, dapat membedakan mana yang baik, yang benar, serta yang mana yang buruk, yang salah. Manusia seperti Lincoln dikatakan telah “mengaktualisasikan diri”. Yang dimaksud dengan mengaktualisasi diri adalah seorang telah mewujudkan bakat, cita-cita diri yang berguna untuk masyarakat dan lingkungannya. Kebutuhan untuk mengaktualisasi diri ada pada semua orang meskipun tidak semua orang mencapai aktualisasi diri tersebut.
Maslow membedakan orang-orang yang dinamakan ‘rata-rata’, dan orang-orang yang ‘sehat’. Orang ‘rata-rata’ ialah manusia yang pada umumnya masih didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan dasar yakni kebutuhan akan cinta dan ketergolongan, dan kebutuhan akan penghargaan/dihargai. Secara berturut-turut empat kebutuhan itu berjenjang/hierarkis. Menurut Maslow, suatu  kebutuhan yang letaknya lebih rendah harus dipenuhi dulu sebelum kebutuhan yang letaknya lebih atas dapat berfungsi/dipenuhi. Manusia yang ‘sehat’ adalah mereka yang kebutuhan dasar sosialnya tidak lagi menjadi prioritas utama karena relatif sudah terpenuhi. Yang menjadi pendorong perilaku manusia ‘sehat’ antara lain: mencari keadilan, keindahan, kesederhanaan dan lain-lain. Hal-hal inilah yang termasuk dalam kebutuhan aktualisasi diri.
Suatu konsep lain yang dikemukakan dalam aliran Maslow adalah kemampuan untuk mengalami pengalaman puncak atau ‘peak experience’, yakni semacam pengalaman nangis atau transcendental yang berkaitan dengan peristiwa tertntu. Menurut Maslow manusia telah mengaktualisasikan diri pernah atau sering mengalami hal ini. Maslow akhirnya tidak terlalu mementingkan tercapainya aktualisasi diri, melainkan proses mencapai aktualisasi diri itu sendiri.
Dalam penyelenggaraan konseling, Rogers menganjurkan agar terapis selalu menciptakan lingkungan terapeutik yang aman sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Dengan terapi gaya Rogers, terapis bersikap empatik (selalu berusaha memahami jalan pikiran dan perasaan klien, mengambil sudut pandang klien), tidak menilai maupun mengarahkan, namun member informasi, member kemudahan bagi klien untuk mengungkapkan diri. Dalam kondisi tak menilai seperti ini, klien mempunyai perasaan takut atau rendah diri akan sampai pada pemahaman yang baru dan untuh tentang dirinya, dan sejalan dengan itu ia akan ‘sembuh’. Keadaan ini dalam perspektif teori Rogers merupakan suatu keadaan congruence (antara aku dengan pengalaman organisme) pada kepribadian klien.
·         Pendekatan Behavior
Pendekatan behavioristik berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavioristik adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning”. Pendekatan behavioristik berbeda dengan pendekatan psikoanalisa yang menekankan perilaku klien dalam kaitannya dengan masa lampau melainkan pendekatan behavioral berpusat pada perilaku yang tampak saat ini. Artinya, perilaku individu yang terjadi saat ini dipengaruhi dari lingkungan. Tujuan dari psikoterapi behavioristik adalah menghilangkan tingkah laku maladaptive dan menggantikannya dengan tingkah laku baru yang lebih sesuai. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavioristik  adalah : Desentisisasi sistematis, latihan asertif, terapi aversi, dan kontrol diri.
·         Contoh kasus yang dapat ditangani dalam pendekatan psikoterapi
a.      Kasus psikodinamika : klien pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga sangat membenci pamannya dan berusaha melupakannya. Terapis mencoba menggali informasi dengan membuat klien mengingatnya sehingga memancing emosi klien maka klien diberikan katarsis (pelampiasan) yaitu sebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan kemarahannya seperti berteriak sekeras-kerasnya didalam ruangan katarsis atau meninju boneka. Ini merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas dimana klien dibiarkan untuk memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini berkaitan dengan proses katarsis.

b.      Kasus behavioristik
Klien mempunyai trauma terhadap tikus sehingga ia sangat takut kepada tikus. Disini terapis berusaha menyembuhkan masalah klien dengan menghadapkan klien pada sampel dari hal yang ditakuti oleh klien. Pertama terapis memberikan klien gambar tikus yang kecil, gambar tikus yang besar, gantungan kunci tikus, boneka tikus hingga pada tikus sungguhan. Klien harus dapat melewati pemaparan untuk menunjukkan bahwa klien telah siap melanjutkan pemaparan berikutnya tanpa memberikan reaksi ketakutan.

c.       Kasus humanistic
Klien memiliki permasalahan pada konsep dirinya yaitu incongruence (pertentangan batin), klien sebenarnya sangat kesal dengan orang tuanya, karena memaksa klien untuk mengambil kuliah jurusan akutansi. Padahal klien paling membenci menghitung, karena tekanan orang tuanya klien tersebut terpaksa harus masuk kuliah jurusan akutansi. Tetapi karena adanya mekanisme rasionalisasi, klien tersebut tidak boleh kesal dengan orang tuanya, walau bagaimanapun juga mereka tetap orang tua yang harus dihormati dan dihargai keputusannya. 
d.      Kasus kognitif
Klien mengalami peristiwa “gagal dalam ujian matematika”. Karena hal tersebut klien jadi memiliki keyakinan irasional didalam dirinya “saya gagal tes, berarti saya sebagai orang yang mengalami kegagalan total”. Hasil dari pemikiran klien tersebut membuatnya merasa tertekan. Dalam peristiwa ini terapis menggunakan Rational Emotive Therapy untuk membantu klien agar dapat berpikir secara rasional terhadap peristiwa yang dialami saat ini.
·         Pandangan mengapa kasus-kasus diatas dapat ditangani oleh pendekatan-pendekatan dibawah ini 
a.       Psikodinamika : karena didalam pendekatan psikodinamika, klien dapat menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah dibawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang dapat mengatasi segala masalahnya melalui insight atau pemahaman pribadi.
b.      Behavioristik : karena dalam pendekatan behavioristik, membantu klien untuk menghilangkan perilaku yang maladaptif dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif. Serta menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku, mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bis menyesuaikan.
c.       Humanistik : karena dalam pendekatan humanistik, membantu klien untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta member jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
d.      Kognitif : karena dengan pendekatan kognitif klien dapat mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional.

DAFTAR PUSTAKA :
Gunarsa, S, (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia.
Semiun, Yutinus, (2006). Kesehatan Mental. Yogyakarta : Kanisius


Nama : Tami Apriliani
Kelas : 3PA 11
NPM : 1A514652