Entri yang Diunggulkan

10 Oktober 2017

Sistem Informasi Psikologi



1

.      Pengertian informasi dan sistem
§  Pengertian informasi
a.       Menurut Jogiyanto HM., (1999) informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian – kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
b.      Menurut Abdul Kadir (2002); Mc Fadden dkk (1999) informasi sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut.
c.       Menurut George H. Bodnar (2000) informasi adalah data yang diolah sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan yang tepat.
d.      Menurut Lani Sidharta (1995) informasi adalah data yang disajikan dalam bentuk yang berguna untuk membuat keputusan.
e.       Menurut Anton M. Meliono (1990) informasi adalah data yang telah diproses untuk suatu tujuan tertentu. Tujuan tersebut adalah untuk menghasilkan sebuah keputusan.
§  Pengertian sistem
a.       Menurut Indrajit (2001) mengemukakan bahwa sistem mengandung arti kumpulan – kumpulan dari komponen – komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
b.      Menurut Jogianto (2005) mengemukakan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen – elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian – kejadian dan kesatuan yang nyata adalah suatu objek nyata, seperti tempat, benda, dan orang – orang yang betul – betul ada dan terjadi.
c.       Menurut Jerry FutzGerald (1981) sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur – prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama – sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
d.      Menurut Davis G.B (1991) sistem secara fisik adalah kumpulan dari elemen – elemen yang beroperasi bersama – sama untuk menyelesaikan suatu sasaran.
§  Pengertian Psikologi
a.       Menurut wikipedia.org psikologi adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari mengenai perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia secara alamiah.
b.      Menurut Dakir (1993) psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
c.       Menurut Muhibbin Syah (2001) psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.
§  Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Suatu sistem terintegrasi yang mampu menyediakan informasi yang bermanfaat bagi penggunanya. Ada juga yang menyebutkan sebuah sistem terintegrasi atau sistem manusia dan mesin, menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dalam suatu organisasi. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi – informasi yang berhubungan dengan psikologis.
2.      Komputer dan Manusia
§  Arsitektur Komputer
Dalam bidang teknik computer, arsitektur computer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem computer. Arsitektur computer ini merupakan rencana cetak biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing – masing bagian akan lebih difokuskan terutama mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data alamat ke memori cache, RAM, ROM, cakram keras, dll. Beberapa contoh dari arsitektur computer ini adalah arsitektur von Neumann, CISC, RISC, blue gene, dll. Arsitektur computer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen – komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah computer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya.

§  Sistem kognisi manusia
Kognisi adalah keyakinan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan, dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai kecerdasan atau intelegensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta kecerdasan buatan. Kepercayaan atau pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku atau tindakan mereka terhadap sesuatu, mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka.
Proses kognitif menggabungkan antara informasi yang diterima melalui indera tubuh manusia dengan informasi yang telah disimpan di ingatan jangka panjang. Kedua informasi tersebut diolah di ingatan kerja yang berfungsi sebagai tempat pemrosesan informasi. Kapabilitas pengeolahan ini dibatasi oleh kapasitas ingatan kerja dan faktor waktu. Proses selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan yang telah dipilih. Tindakan dilakukan mencakup proses kognitif dan proses fisik dengan anggota tubuh manusia (jari, tangan, kaki, dan suara). Tindakan dapat juga berupa tindakan pasif, yaitu melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya.
§  Kaitan antara arsitektur computer dengan sistem kognisi manusia
Hubungan antara arsitektur computer dan kognisi manusia yang pertama adalah dalam penyusunan perangkat computer (software dan hardware) dalam proses arsitektur computer. Dapat dilihat dari definisi arsitektur computer itu sendiri yaitu merupakan ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen – komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah computer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya. Jelas bahwa fungsi – fungsi kognitif manusia sangat diperlukan agar dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan tertentu. Arsitektur computer sendiri juga mempelajari atribut – atribut sistem computer yang terkait dengan seorang programmer dan memiliki dampak langsung pada eksekusi logis sebuah program. Kemudian hubungan yang kedua yaitu secara disadari atau tidak keduanya menjalankan proses secara garis besar sama yaitu proses mengolah informasi. Fungsi – fungsi seperti pengenalan pola, atensi, kesadaran, belajar, memori, formasi konsep, bahasa atau pemahaman, hingga digunakan untuk pemecahan masalah ada pada keduanya meskipun dijelaskan dengan istilah yang berbeda.
§  Kelebihan dan kekurangan
Selain terdapat kaitan antara arsitektur computer dengan struktur kognisi manusia, arsitektur computer juga mempunya kelebihan dan kelemahan dibandingkan dengan struktur kognisi pada manusia. Solso (2007) menyatakan bahwa walaupun computer memiliki banyak kelebihan, namun computer juga memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan kognitif manusia.
            Kelebihan :
1)      Pada umumya computer dapat melakukan operasi matematika dan logika dengan sangat cepat.
2)      Computer dapat menguji model – model kognitif dengan sumber daya ruang dan waktu yang lebih hemat.
3)      Dalam waktu yang sama, computer dapat melakukan ribuan simulasi dan menghasilkan ribuan data, dll.
Kekurangan :
1)      Computer tidak memiliki emosi seperti manusia.
2)      Computer tidak dapat melakukan generalisasi.
3)      Computer tidak mampu memahami pola – pola kompleks.
4)      Computer tidak mampu membuat kesimpulan.
5)      Manusia lebih unggul dalam mengenali wajah.




Sumber :
Abdul Kadir, Pengenalan Sistem Informasi, Penerbit Andi Yogyakarta,      Yogyakarta: 2002.
Anton M. Meliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka,          Jakarta: 1990.
Dakir . (1993). Dasar-Dasar Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

George H. Bodnar, William S. Hopwood, Sistem Informasi Akuntansi, Buku Satu,             Salemba Empat,  Jakarta: 2000.
Gordon B. Davis, Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian 1, PT       Pustaka Binamas Pressindo, Jakarta: 1991.
Indrajit, 2001, Analisis dan Perancangan Sistem Berorientasi Object. Bandung,     Informatika.
Jogiyanto HM., Analisis dan Disain Informasi: Pendekatan Terstruktur Teori dan   Praktek Aplikasi Bisnis, Andi Offset, Yogyakarta: 1999.
Jogianto HM. 2005. Sistem Teknologi Informasi. Andi. Yogyakarta.
Lani Sidharta, Pengantar Sistem Informasi Bisnis, P.T. ELEX Media          Komputindo, Jakarta: 1995.
Solso, R. L., Maclin, O.H., & Maclin, M. K. (2007). Psikologi Kognitif Edisi           Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Syah, Muhibbin, 2001, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Diakses pada tanggal 08 Oktober 2017 :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi . Diakses pada tanggal 10 Oktober.
https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi / Diakses pada tanggal 10 Oktober.


 Nama : Tami Apriliani
NPM : 1A514652
Kelas : 4PA 11

12 Juli 2017

Rangkuman Psikoterapi

Pada psikologi terdapat beberapa aliran yang dimana setiap aliran tersebut mempunyai terapi tersendiri seperti aliran yang kami pilih adalah aliran Psikoanalisis dengan menggunakan terapi transferensi, aliran Behavior dengan terapi desentisasi sistematis, dan aliran Humanistik menggunakan terapi client-centered therapy. Berikut ini adalah penjelasan dari terapi tersebut:
A. Psikoanalisis: Terapi Transferensi
1. Pengertian Terapi Transferensi
Transferensi pertama kali dijelaskan oleh Sigmun Freud dan diakui sangat penting untuk psikoanalisis agar lebih memahami perasaan klien. Transferensi adalah fenomena dalam psikoanalisis yang ditandai dengan pengalihan perasaan alam bawah sadar dari satu orang ke orang lain. Teknik ini merupakan teknik utama dalam terapi psikoanalisis karena dalam teknik ini masa lalu dihidupkan kembali. Pada teknik ini pun diharapkan klien dapat memperoleh pemahaman atas sifatnya sekarang yang merupakan pengaruh dari masa lalunya.
2. Cara dan Tahapan pada Terapi Transferensi
Transferensi merupakan respon klien kepada seorang konselor dengan mengidentifikasi seakan-akan konselor adalah orang didalam kehidupan klien dimasa lalu dan mengembangkan reaksi emosional ke konselor, seperti misalnya tokoh orang tua atau kekasih. Teknik ini mendorong klien menginterpretasikan perasaan-perasaan positif dan negatif yang diekspresikan, teknik ini juga mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampau dalam terapi. Selain itu, saat transferensi berlangsung akan memicu munculnya perasaan benci, ketakutan, kecemasan dan sebagainya yang selama ini ditekan oleh klien, lalu hal tersebut akan diungkapkan kembali dengan sasaran konselor sebagai objeknya. Dalam konteks ini konselor melakukan analisis pengalaman klien dimasa kecil, terutama hal-hal yang meghambat perkembangan kepribadian klien. Tahapan pada transferensi antara lain:
a. Tahap pembukaan
Tahap pembukaan ini terjadi pada permulaan interview hingga masalah klien ditetapkan. Terdapat dua bagian pada tahap ini, yaitu disepakati tentang struktur situasi analisis yang menyangkut tanggung jawab konselor serta klien dan bagian kedua dimulai dengan klien menyimpulkan posisinya, sementara konselor terus mempelajari dan memahami dinamika konflik-konflik ketidaksadaran yang dialami klien.
b. Pengembangan transferensi
Perkembangan dan analisis transferensi merupakan inti dalam psikoanalisis. Pada fase ini perasaan klien mulai ditunjukan kepada konselor yang dianggap sebagai orang yang telah menguasai masa lalunya.
c. Bekerja melalui transferensi
Tahap ini mencakup mendalami pemecahan dan pengertian klien sebagai orang yang terus melakukan transferensi. Tahap ini dapat tumpang tindih dengan tahap sebelumnya hanya saja transferensi terus berlangsung dan konselor berusaha memahami tentang dinamika kepribadian kliennya.
d. Resolusi transferensi
Tujuan tahap ini adalah memecahkan perilaku neurosis klien yang ditunjukan kepada konselor sepanjang hubungan konseling. Konselor juga mulai mengembangkan hubungan yang dapat meningkatkan kemandirian pada klien dan menghindari adanya ketergantungan klien pada konselornya.
3. Kelebihan dan Kekurangan Terapi Transferensi
a. Kelebihan
· Dengan terapi psikoanalisis ini, klien dapat terbantu dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
· Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat
· Terapis bisa lebih mengetahui masalah dari diri klien, karena klien sendirilah yang memunculkan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu klien yang tidak disadari menyimpan sebuah masalah dengan menghadirkannya kembali dari alam bawah sadar klien.
b. Kekurangan
Freud mencatat sejumlah keterbatasan dari penanganan psikoanalisis ini yaitu:
· Tidak semua kenangan masa lalu bisa atau sebaikanya dibawa ke alam sadar.
· Penanganan ini tidak efektif untuk penyakit menetap dibandingkan dengan masalah-masalah yang terkait dengan fobia, histeria dan obsesi.
· Selain itu setelah sembuh klien bisa saja mengalami masalah psikis yang lain.
· Kekurangan yang lain yaitu dalam menjalankan terapi ini butuh waktu yang cukup lama untuk melakukan terapi sehingga membuat klien akan merasa jenuh.
B. Behavior: Terapi Desentisasi Sistematis
1. Pengertian Terapi Desentisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis adalah salah satu teknik yang digunakan untuk menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif, serta memunculkan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan tersebut. Teknik ini mengarahkan agar klien dilatih untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialaminya. Wolpe seorang ahli yang pertama mengembangkan teknik desensitisasi sistematis, mengajukan argumen bahwa segenap tingkah laku neurotik adalah ungkapan dari kecemasan serta kecemasan tersebut menurutnya dapat dihilangkan dengan respon-respon yang secara inheren berlawanan dengan respon tersebut. Dengan menggunakan pengkondisian klasik, maka kekuatan stimulus yang menyebabkan kecemasan dapat dilemahkan, dan gejala kecemasan dapat dikendalikan serta dihapus melalui penggantian stimulus.
2. Cara dari Terapi Desentisasi Sistematis
Teknik ini digunakan bila seorang sangat cemas terhadap suatu stimulus tertentu. Kita semua merasa sangat cemas terhadap satu atau lebih stimulus. Stimulus itu mungkin berupa menempuh ujian, ular, tikus, rayuan asmara, berada sendirian, tempat-tempat yang tinggi (ketinggian), berjalan sendirian, suntikan, obat-obatan, berada di dalam tempat yang kecil atau tempat yang ramai, pintu-pintu yang terkunci, tangga yang curam, dan sebagainya. Pendekatan ini bertumpu pada fakta bahwa seseorang tidak dapat secara serempak merasa cemas dan relaks. Wolpe menggunakan relaksasi sebagai cara mengimbangi stimulus yang ditakuti.
Desensitisasi sistematis terdiri dari 3 tahap, yakni melatih relaksasi otot yang mendalam, menyusun hierarki kecemasan (urutan kecemasan), dan menghayalkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan yang diimbangi dengan relaksasi. Untuk laitihan relaksasi otot secara mendalam digunakan modifikasi prosedur dari Jacobson (1934). Di bawah instruksi terapis, pasien diajarkan untuk relaks dengan menenangkan dan kemudian mengendurkan sekelompok otot progresif. Tahap ini berakhir bila pasien dengan berkhayal mampu mengendurkan otot-otot.
Tahap kedua adalah menyusun hierarki kecemasan. Dalam suatu rangkaian wawancara, terapis berusaha menemukan situasi-situasi stimulus yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan. Misalnya, orang yang mengalami ketakutan yang tidak masuk akal terhadap tempat-tempat yang tinggi (ketinggian). Mungkin ada beberapa hal di mana ketakutan muncul seperti berada dalam bangunan-bangunan yang tinggi, mengendarai mobil di tempat yang tinggi, terbang dengan pesawat terbang yang kecil, dan sebagainya. Untuk setiap hal itu sejumlah stimulus diurut berdasarkan bagaimana stimulus-stimulus tersebut menimbulkan ketakutan, mulai dari yang sangat kurang menakutkan sampai dengan yang sangat menakutkan. Misalnya, urutan dari stimulus-stimulus terbang dalam sebuah pesawat terbang yang kecil mungkin berupa:
1. Berpikir mengenai terbang dengan sebuah pesawat terbang yang kecil pada suatu waktu di masa yang akan datang.
2. Mengetahui bahwa dalam dua minggu Anda harus terbang dengan sebuah pesawat terbang yang kecil.
3. Mengetahui bahwa minggu depan Anda harus terbang dengan sebuah pesawat terbang yang kecil.
4. Berpikir bahwa besok Anda harus terbang dengan sebuah pesawat terbang yang kecil.
5. Mengetahui bahwa hari ini Anda harus terbang dengan sebuah pesawat terbang yang kecil.
Tahap ketiga adalah dengan berkhayal, stimulus-stimulus yang menimbulkan ketakutan dalam hierarki itu di imbangi dengan relaksasi. Tujuan dari tahap ini adalah menggantikan ketakutan terhadap setiap stimulus dengan relaksasi. Ini dilakukan dengan menyuruh klien membayangkan (menghayalkan) setiap stimulus yang menimbulkan kecemasan sementara klien berada dalam keadaan relaks.
3. Kelebihan dan Kekurangan Terapi Desentisasi Sistematis
a. Kelebihan
Kelebihan dari desensitisasi melalui imajinasi adalah munculnya stimulus-stimulus yang ditakuti dapat diatur. Dengan menghadapi stimulus-stimulus yang ditakuti dalam hierarki secara bertahap lewat imajinasi, seseorang tidak mungkin didorong terlalu jauh oleh suatu peristiwa yang tidak bisa dikontrol. Sebagai teknik klinis, desensitisasi sistematis dinilai sangat efektif dalam mereduksikan kecemasan, ketakutan, dan fobia yang melakat pada kondisi-kondisi tertentu.
b. Kekurangan
1. Tidak semua terapis mampu berperan propagandist dalam penerapan teknik treatment desensitisasi sistematis.
2. Dalam teknik desensitisasi sistematis perlu melibatkan teknik-teknik lain untuk membantu terapis. Contoh : relaksasi.
3. Teknik memerlukan waktu yang lama untuk penerapannya sebab terdapat tahap-tahap atau tingkatan yang berkelanjutan dalam membantu terapis, misalnya:
a. Tahap I : Menghilangkan kecemasan tingkat rendah
b. Tahap II : Menghilangkan kecemasan tingkat sedang
c. Tahap III : Menghilangkan kecemasan tingkat tinggi
4. Terapis perlu membuat format-format tertentu yang sangat detail mengenai masalah pasien sesuai dengan tingkatan atau tahapan-tahapan teknik ini.
C. Humanistik: Client-Centered Therapy
1. Pengertian Client-Centered Therapy
Client-centered therapy sering juga disebut psikoterapi non-directive, atau person centered therapy, yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan antara terapis dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal slef dengan actual self. Carl R. Rogers mengembangkan teori client-centered therapy sebagai reaksi terhadap apa yang disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan klien terhadap dunia subjektif dan fenomenanya. Pendekatan client-centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Pendekatan client-centered therapy (CCT) berpusat pada klien. Pendekatan ini sering pula disebut sebagai konseling diri (self theory), konseling non-direktif, dan konseling Rogerian. Client-centered Therapy mendasarkan diri pada pandangannya tentang sifat dan hakikat manusia. Pandangannya tertuju pada penghargaan martabat manusia.
2. Cara Client-Centered Therapy
Rogers mengemukakan enam syarat dalam proses terapi person-centered yang harus dipenuhi oleh terapis. Rogers menyatakan bahwa pasien akan mengadakan respon jika:
a. Terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri
b. Terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk menggerakkan dirinya ke arah kematangan atau kedewasaan serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan ini seta bukan usaha-usahanya sendiri
c. Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh di mana pasien dapat mengungkapan atau juga tidak mengungkapan apa saja yang diinginkannya
d. Membatasi tingkah laku terapi bukan sikap, misalnya pasien mungkin mengungkapkan keinginannya untuk memperpanjang pertemuan melampaui batas waktu yang telah disetujui, tetapi terapis tetap mempertahankan jadwal semula
e. Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi-emosi yang sedang diungkapkan pasien mungkin dilakukannya dengan memantulkan kembali dan menjelaskan perasaan-perasaan pasien
f. Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberikan penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan kembali.
Client-Centered menempatkan tanggung jawab tidak pada konselor, tetapi pada klien. Ada beberapa teknik dasar yang harus dimiliki client-centered adalah sebagai berikut:
a. Mendengarkan klien secara aktif
b. Merefleksikan perasaan klien
c. Menjelaskannya
Teknik-teknik konselingnya adalah sebagai berikut:
a. Acceptance (penerimaan)
b. Respect (rasa hormat)
c. Understanding (mengerti/memahami)
d. Reassurance (menentramkan hati/meyakinkan)
e. Encouragement (dorongan)
f. Limited quetioning (pertanyaan terbatas)
g. Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)
3. Kelebihan dan Kekurangan Client-Centered Therapy
a. Kelebihan
· Memberikan landasan humanistik bagi usaha memahami dunia subyek klien, memberikan peluang yang jarang kepada klien  untuk sungguh-sungguh di dengar dan mendengarkan.
· Mereka bisa menjadi diri sendiri, sebab mereka tahu bahwa mereka tidak akan dievaluasi dan dihakimi.
· Mereka akan merasa bebas untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru.
· Mereka dapat diharapkan memikul tanggung jawab atas diri mereka sendiri dan merekalah yang masang dalam konseling.
· Mereka yang menetapkan bidang-bidang apa yang mereka ingin mengeksplorasikan di atas landasan-landsan dan tujuan bagi perubahan.
· Pendekatan clien-centered menyajikan kepada klien umpan balik langsung dan khas dari apa yang baru di komunisikan.
· Terapis tertindak sebagai cermin, mereflesikan perasaan-perasaan kliennya yang lebih dalam.
b. Kekurangan
· Cara sejumlah praktisi yang menyalah tafsirkan atau menyederhanakan sikap-sikap sentral dari posisi clien center
· Tidak semua konselor bisa mempratekkan terapi clien center sebab banyak konselor tidak mempercayai filsafat yang melandasinnya.
· Membatasi lingkup tanggapan dan gaya konseling mereka sendiri pada refleksi-refleksi dan mendengar secara empatik.
                    · Adanya jalan yang menyebabkan sejumlah pempraktek menjadi terlalu terpusat
                            pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai pribadi yang unik.